Keberadaan wabah penyakit yang disebabkan jentik nyamuk\r\nperlahan muncul. Berbagai alternatif pencegahan penyakit malaria maupun demam\r\nberdarah perlu dicoba. Salah satunya adalah memelihara ikan ...
Keberadaan wabah penyakit yang disebabkan jentik nyamuk\r\nperlahan muncul. Berbagai alternatif pencegahan penyakit malaria maupun demam\r\nberdarah perlu dicoba. Salah satunya adalah memelihara ikan cupang.
Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Keamanan\r\nHasil Perikanan (BKIPM) Bandung, Dedi Arief Hendriyanto, mengatakan ada satu\r\njenis cupang yang dapat memakan 80 jentik nyamuk dalam satu kali makan. Ikan\r\ntersebut adalah jenis crown tail. Jenis ikan cupang lainnya hanya mampu\r\nmemakan 10 jentik nyamuk satu kali makan.
"Ikan cupang crown tail (cupang hias serit) merupakan\r\nikan asli Indonesia," ujarnya saat ditemui dalam kegiatan penyebaran\r\nikan cupang di RW 05, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi,\r\nJawa Barat, pekan lalu (25/1).
Cupang jenis crown tail dapat memakan puluhan jentik dan\r\ntelur nyamuk sampai tidak tersisa. Ciri yang menonjol pada ikan ini memiliki\r\ngerakan agresif dan memiliki warna yang indah.
Baca juga: Sosialisasi Teknologi Budidaya Ikan Cupang Alam
Budidaya Cupang\r\nCrown Tail
Kita dapat melakukan pencegahan penyakit berbahaya seperti\r\nmalaria dan demam berdarah dengan cara memasukkan ikan cupang ke dalam bak\r\nmandi, gentong, dan drum. Dapat pula ditempatkan di segala wadah yang dijadikan\r\npenampungan air yang ada indikasi jentik nyamuk.
Kita dapat mengetahui perbedaan antara ikan jantan dan\r\nbentina, sejak ikan tersebut berumur satu bulan. Pada ikan jantan, biasanya\r\nwarnanya lebih cerah, sementara pada betina biasanya bentuk badan lebih oval\r\nserta warnanya agak memudar.
Pada usia satu bulan, ikan betina maupun jantan boleh\r\ndicampur dalam satu kolam, asalkan makanan yang disediakan cukup untuk semua\r\nikan. Apabila makanan tidak cukup, ikan cupang yang dasarnya adalah karnivora\r\nakan memakan sesama jenisnya.
Pada usia dua bulan, barulah ikan cupang ditempatkan di\r\nkolam sendiri-sendiri. Untuk suplemen tambahan, dapat digunakan air rendaman\r\ndaun ketapang kering. Ini berguna agar PH (keasaman) air tetap stabil.
Cupang crown tail merupakan varian Betta splendens yang\r\ndigemari para penghobi ikan hias. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir,\r\npopularitas ikan cupang kian berkilau seiring beragamnya corak ikan yang cantik\r\ndan peminatnya yang kian naik. Inilah yang membuat pasar ikan cupang tidak\r\nseperti ikan hias lainnya.
Baca juga: Lima Manfaat Air Rendaman Daun Ketapang Bagi Ikan Cupang
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Untuk ikan hias crown tail banyak diminati bukan saja karena\r\ncantiknya, tapi juga manfaat dan peluang bisnis yang terbuka\r\nluas. Diharapkan keberadaan ikan cupang ini dapat memberikan dampak luas\r\nbagi masyarakat, yakni dapat mengurangi wabah penyakit demam berdarah dan\r\nmalaria, juga dapat membuka peluang bisnis bagi pembudi daya ikan cupang.

Sumber : Agronet.id
Tentang Minapoli
Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
