Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara\r\nresmi melarang penggunaan induk udang asal tambak, baik jenis udang vanname\r\n(Litopenaeus vannamei) maupun udang windu (Penaeus monodon) ...
Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara\r\nresmi melarang penggunaan induk udang asal tambak, baik jenis udang vanname\r\n(Litopenaeus vannamei) maupun udang windu (Penaeus monodon) sebagaimana\r\ntertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor\r\n4575/DJPB/2019 tanggal 22 Mei 2019. Larangan ini merupakan bentuk antisipasi\r\nserta sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap potensi\r\ntimbulnya penyakit sindrom kematian dini (EMS) yang disebabkan oleh infeksi\r\nVibrio parahaemolyticus yang dapat menyebabkan penyakit Acute Hepatopancreatic\r\nNecrosis Disease (AHPND).
Ada 3 (tiga) poin utama dalam edaran larangan tersebut,\r\nyaitu: pertama, setiap hatchery (hatchery skala besar dan skala kecil (HSRT))\r\ndan naupli center dilarang menggunakan induk udang dari tambak; kedua, hatchery\r\ndan naupli center yang selama ini menggunakan induk udang dari tambak\r\ndiharuskan untuk mengganti induk udang dari hasil breeding program broodstock\r\ncenter udang vannamei yang dimiliki pemerintah maupun swasta atau mengimpor\r\ninduk udang bebas penyakit dari negara yang dinyatakan bebas penyakit; dan\r\nketiga, pemerintah berupaya menyediakan induk udang hasil breeding program dari\r\nbroodstock center.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di\r\nJakarta, Rabu (29/5) menjelasakan bahwa rencana penerbitan surat edaran ini\r\ntelah disosialisasikan kepada stakeholder dalam berbagai forum, sehingga\r\ndiharapkan dapat segera diimplementasikan di lapangan. Slamet berharap dengan\r\nterbitnya larangan ini, maka status Indonesia sebagai negera yang bebas dari\r\npenyakit EMS/AHPND benar-benar terjaga.
"Indonesia merupakan salah satu negara yang\r\ndinyatakan terbebas dari penyakit EMS/AHPND, oleh sebab itu upaya yang\r\nbenar-benar serius untuk mempertahankan status tersebut harus kita lakukan.\r\nSalah satunya dengan memastikan proses pembenihan udang benar-benar aman dari\r\nkontaminasi penyakit EMS/AHPND, tidak terkecuali dengan menggunakan induk udang\r\nyang benar-benar terbebas dari penyakit ini" ujar Slamet.
Slamet juga menjelaskan bahwa induk udang baik vanname\r\nmaupun windu dari tambak sangat berpotensi menularkan penyakit karena dipelihara\r\ndi tempat terbuka sehingga sangat rawan terpapar atau tertular berbagai\r\npenyakit serta potensial menciptakan dan menyebarkan penyakit lokal ke daerah\r\nlain.
Selain itu lanjutnya, proses pembuatan induk udang di\r\ntambak seringkali menyalahi atau tidak sesuai dengan protokol produksi induk,\r\nakibatnya induk udang yang dihasilkan tidak dapat dijamin bahwa secara genetik\r\nbaik atau unggul.
"Jika kita ingin udang kita tetap aman dan bebas\r\nEMS/AHPND, langkah pertama ya dari proses pembenihannya harus aman, induk yang\r\ndihasilkan harus melalui dan sesuai protokol produksi induk udang" lanjut\r\nSlamet.
"Saya mengimbau, semua pihak terkait untuk\r\nberkomitmen dan berpartisipasi aktif dalam mencegah masuk dan tersebarnya\r\npenyakit EMS/AHPND ke dalam wilayah RI dengan menggunakan induk udang yang\r\nsehat, bebas penyakit dan pakan induk udang yang juga bebas penyakit"\r\npungkas Slamet.
Selain mengeluarkan surat edaran larangan penggunaan\r\ninduk udang dari tambak, ada 6 (enam) langkah atau upaya yang telah dilakukan\r\noleh pemerintah dalam mencegah penyakit ini yaitu: pertama, Peningkatan\r\nkewaspadaan (public awareness) terhadap gejala-gejala serta cara penanganan\r\nEMS/AHPND melalui sosialisasi, peningkatan kapasitas pengujian laboratorium\r\nserta meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas induk, calon induk, benur,\r\nserta pakan alami (polychaeta dan artemia) khususnya dari negara wabah. Kedua,\r\nmengajak untuk penebaran benur intensif 80 – 100 ekor per m2.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Selanjutnya ketiga, kembali melakukan persiapan seperti\r\nprinsip-prinsip dasar atau panca usaha (back to basic). Keempat, pelarangan\r\nmenggunakan induk tambak untuk HSRT atau Naupli Center. Kelima, pengembangan\r\nkawasan budidaya perikanan berbentuk klaster secara terpadu dan terintegrasi\r\ndalam satu kesatuan pengelolaan, baik lingkungan, teknologi, input produksi\r\nmaupun pemasaran. Keenam, upaya mempertahankan keberlanjutan usaha budidaya\r\nperikanan melalui pengaturan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL/UKL-UPL),\r\npenyediaan saluran inlet/outlet yang terpisah.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
