Minapoli
Cegah AHPND Masuk Wilayah NKRI, KKP Siapkan Strategi Langkah Antisipatif
Udang

Cegah AHPND Masuk Wilayah NKRI, KKP Siapkan Strategi Langkah Antisipatif

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Jakarta -\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan strategi sebagai\r\nlangkah antisipatif pencegahan penyakit AHPND (Acute hepatopancreatic necrosis\r\ndisease) dalam industri ud...

Jakarta -\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan strategi sebagai\r\nlangkah antisipatif pencegahan penyakit AHPND (Acute hepatopancreatic necrosis\r\ndisease) dalam industri udang nasional.

Direktur\r\nJenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangan persnya di\r\nJakarta. Jum'at (22/3), menyatakan meski Indonesia masih terbebas dari penyakit\r\nAHPND, namun jika melihat dari latar belakang munculnya penyakit ini, maka\r\nsegala potensi resiko dalam industri budidaya udang nasional harus diantisipasi\r\nsecara serius. Salah satu upaya yakni dengan membentuk tim task force (Gugus\r\nTugas) yang melibatkan stakeholders terkait guna melakukan antisipasi potensi\r\npenyakit AHPND di sentral sentral produksi.

"Jadi poin\r\npenting lainnya yakni Indonesia perlu mewaspadai masuknya penyakit lintas batas\r\n(transboundary disease) yang dapat mengancam industri perudangan nasional dalam\r\nhal ini penyakit AHPND dari negara terjangkit. Kami juga mengeluarkan surat\r\nedaran bagi para pelaku usaha untuk tidak menggunakan induk udang dari tambak.\r\nTapi harus dari hatchery yang tersertifikasi seperti Balai Pengembangan Induk\r\nUdang dan Kekerangan (BPIUK) Karangasem Bali", tegas Slamet.

Ia menambahkan,\r\nAHPND telah menjadi momok menakutkan bagi para pelaku usaha udang di berbagai\r\nnegara terjangkit seperti China, Thailand, Malaysia, Mexico dan Vietnam.\r\nImbasnya terjadi penurunan produksi yang drastis dan kerugian ekonomi jutaan\r\ndollar.

"FAO\r\nmencatat dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun produksi udang di Thailand turun\r\ndrastis dari 609.552 ton pada tahun 2013 menjadi 273.000 ton di tahun 2016.\r\nSedangkan kerugian ekonomi akibat AHPND di Vietnam selama kurun waktu 2013 -\r\n2015 mencapai 216,23 juta USD. Ini tentu jadi fokus perhatian kita agar\r\nIndonesia tidak mengalami nasib yang sama", imbuhnya.

Hal senada\r\ndisampaikan Kepala BKIPM, Rina. Ia mengatakan KKP terus berupaya untuk\r\nmelakukan pencegahan secara komprehensif terhadap potensi masuknya penyakit ini\r\nke wilayah NKRI.

" Kita\r\nterus perketat masuknya potensi penyakit AHPND dari negara terjangkit di pintu\r\npintu masuk pelabuhan strategis. Saat ini Balai Karantina juga dilengkapi\r\ndengan real time PCR. Jadi harus dilakukan uji wajib AHPND pada lalulintas\r\nperdagangan terutama produk akukakultur. Selama ini hasil surveilan rentang\r\ntahun 2015 - 2017 di beberapa sentral produksi udang menyimpulkan bahwa kita\r\nmasih terbebas dari AHPND (hasilnya negatif)", ungkap Rina.


Siapkan Strategi\r\nLangkah Antisipatif

Slamet\r\nmengingatkan, terjadinya kasus serangan White Feces Disease (WFD) dan\r\nEnterocytozoon hepatopenaei (EHP) di Indonesia harus diwaspadai sebagai potensi\r\nresiko AHPND sebagaimana di Thailand dan Vietnam. Oleh karena itu pencegahan\r\nmelalui surveilan, sosialisasi dan penerapan biosecurity mutlak dilakukan.

KKP telah\r\nmenggandeng para pelaku usaha dan stakeholders terkait untuk menyiapkan\r\nupaya-upaya pencegahan. Setidaknya ada 7 (tujuh) upaya, yakni : (1) Melakukan\r\nsurveilan AHPND ke sentra-sentra budidaya udang; (2)

Peningkatkan\r\nkesadaran masyarakat pembudidaya (public awareness) terhadap bahaya serta\r\npencegahan AHPND ke sentra-sentra budidaya udang di Indonesia melalui\r\npenyelenggaran Workshop yang dilakukan di sentra-sentra budidaya udang bersama\r\nsama dengan pemerintah dan stakeholder seperti Shrimp Club Indonesia (SCI),\r\nGabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) dan Asosiasi Pembenih Udang; (3)\r\nMenyusun Standard Operasional Prosedur (SOP) Pencegahan penyakit bakterial\r\nkhususnya AHPND; (4) Penguatan kapasitas laboratorium (SDM dan Peralatan) UPT\r\nDJPB dan UPT Karantina dalam pengujian AHPND; (5)  Menyusun rencana aksi pencegahan masuk dan\r\ntersebarnya penyakit AHPND di Indonesia yang meliputi sosialisasi, surveilan\r\ndan penerapan biosecurity secara bersama-sama oleh stakeholder (tambak dan\r\nHatchery); (6)

Telah melakukan\r\nkesepakatan bersama antara pelaku usaha (SCI, GPMT, Pembenih, Asosiasi\r\nSaprotam),   peneliti perguruan tinggi\r\ndan lembaga penelitian lainnya dalam pencegahan masuk dan tersebarnya AHPND di\r\nIndonesia; dan (7) melarang impor pakan alami, induk, dan benih udang dari\r\nnegara negara terjangkit.

"Saya yakin\r\nmelalui kerjasama secara sinergi dengan seluruh pihak upaya pencegahan akan\r\nefektif dan tentunya disatu sisi kita akan manfaatkan peluang untuk mendorong\r\npeningkatan supply share produk udang Indonesia di pasar global", pungkas\r\nSlamet. Sementara itu Presiden Shrimp Club Indonesia, Iwan Sutanto justru\r\nmeminta agar kita tetap optimis bahwa udang kita tetap terbebas dari AHPND ini.\r\n "Saya minta peran media untuk tidak\r\nsalah menafsirkan terkait isu ini, agar tidak berimbas pada keberterimaan\r\nproduk udang kita di pasar global", tegas Iwan

Sebagaimana\r\ndiketahui, AHPND merupakan penyakit  yang\r\ndisebabkan adanya infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND) yang mampu\r\nmemproduksi toksin dan menyebabkan kematian pada udang dengan mortalitas\r\nmencapai 100%. Kematian akibat AHPND terjadi pada umur 40 hari setelah ditebar. AHPND pertama kali teridentifikasi di\r\nChina pada tahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease dan dilaporkan\r\ntahun 2010 telah menyerang Vietnam disusul Malaysia (2011), Thailand (2012),\r\nMexico (2013), dan Philipina (2015).

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara umum\r\ngejala klinis yang terlihat pada udang yang terinfeksi oleh AHPND di tambak\r\nantara lain: 1) Terjadi kematian secara mendadak di dasar petak tambak pada umur\r\n< 40 hari pasca tebar; 2) Seringkali warna seluruh badan udang pucat dan\r\nsaluran pencernaan kosong; 3) Hepatopankreas terlihat mengecil dan pucat jika\r\ndibedah.  Sedangkan di hatchery gejala\r\nklinis terhadap serangan AHPND masih sulit untuk dikenali, namun demikian dapat\r\ndilihat dari adanya gerakan larva dan postlarva (PL) yang terlihat lemah,\r\nhepatopankreas pucat, dan terjadi kematian secara mendadak mulai stadia PL 1\r\nsampai dengan sebelum PL didistribusikan mencapai >30%.

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan