Minapoli
Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan
Udang

Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

Udang (vaname) masih menjadi salah satu komoditas unggulan\r\nekspor Indonesia.  Pada tahun 2018, komoditas udang menyumbang devisa\r\nsebesar USD 1,27 miliar atau 36,96 persen dari total nilai ekspor...


Udang (vaname) masih menjadi salah satu komoditas unggulan\r\nekspor Indonesia.  Pada tahun 2018, komoditas udang menyumbang devisa\r\nsebesar USD 1,27 miliar atau 36,96 persen dari total nilai ekspor perikanan.\r\nSedangkan  dari volumenya, udang hanya menyumbang 18,35 persen dari\r\nkeseluruhan volume ekspor komoditas perikanan.

Guna meningkatkan target ekspor udang sebanyak 250% hingga\r\ntahun 2024 mendatang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan\r\npercepatan budidaya udang di masyarakat. “Untuk mendukung program tersebut,\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada saya untuk meningkatkan\r\nproduksi udang dari tambak mulai dari yang tradisional dengan melakukan\r\ntransfer teknologi kepada pembudidaya,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet\r\nSoebjakto, dalam sambutannya pada acara pelatihan bisnis budidaya udang vaname\r\nskala ekspor berbasis teknologi, di Jakarta, pekan lalu.

Selain menggunakan teknologi, lanjut Slamet, KKP mendorong\r\npembudidaya udang menerapkan SOP yang benar. “Seperti, sumber induk, sistem\r\npembenihan, pengelolaan lingkungan hingga penanganan penyakit merupakan hal\r\nesensial yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh pembudidaya,” ujar\r\n Slamet.

Slamet optimistis, dengan mengaplikasi peta jalan yang telah\r\nditetapkan Ditjen Perikanan Budidaya, target peningkatan ekspor udang hingga\r\n250% sampai 2024, kurun lima waktu ke depan bisa tercapai. “Dalam beberapa\r\ntahun terakhir, jumlah investor, teknologi serta kecakapan pembudidaya dalam\r\nmelakukan bisnis budidaya udang telah menunjukkan peningkatan yang\r\nmenggembirakan,” ujarnya.

Slamet mengakui,  keberhasilan program budidaya udang\r\nyang berkelanjutan ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta berbagai pihak.\r\nKarena itu,  sinergitas lintas sektor terutama dari sisi makro seperti dukungan\r\ndan kebijakan pemerintah daerah serta ketersediaan listrik dan BBM sangat\r\npenting dalam pengembangan budidaya udang. “Sedangkan dari sisi mikro seperti\r\nkualitas benih dan pakan, penyiapan wadah budidaya, optimalisasi sarana\r\nproduksi, hingga SDM yang mumpuni menjadi faktor yang menentukan keberhasilan\r\ndan keberlanjutan usaha,” kata Slamet.

Guna mendorong budidaya udang di masyarakat, KKP selama ini\r\ntelah melakukan terobosan dengan sejumlah program seperti  Pengelolaan\r\nIrigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan alat berat, bantuan benih,\r\nAsuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil, dan penataan kawasan Budidaya\r\nUdang Berbasis Klasterisasi.

Slamet mengatakan, KKP juga bekerjasama dengan Pemda\r\nKabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) membangun tambak udang semi\r\nintensif berbasis klaster sebanyak 2 klaster seluas 8 hektar (ha) di Desa Sarjo,\r\nKecamatan Sarjo. Hasilnya, produktivitas meningkat dari 50-200 kg/ha menjadi\r\n5.000-10.000 kg/ha. S

Selain itu ada pengembangan klaster kawasan budidaya udang\r\n berkelanjutan di empat  Kabupaten wilayah utara,  yakni\r\nKabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango\r\n(Gorontalo), dan Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) yang telah dituangkan dalam\r\nnota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama.  “Sebagai diversifikasi\r\nkomoditas, KKP juga telah mendorong pengembangan udang asli Indonesia seperti\r\nudang Jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Penaeus indicus) yang akan\r\ndimasyarakatkan lebih luas pada tahun mendatang,” ujarnya.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Budidaya komoditas baru ini telah dilakukan uji multilokasi\r\ndengan hasil yang memuaskan dan dengan tingkat penyakit yang dapat dikendalikan\r\nhingga saat ini.  “Tentunya komoditas ini akan dimasyarakatkan dengan\r\nmenganut sistem budidaya yang berbasis lingkungan serta berkelanjutan,"\r\nujar Slamet.


Sumber : Tabloid Sinar tani

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan