Smart dinilai mampu menurunkan bahan organik limbah budidaya\r\ndi perairan terbuka Adanya polemik penataan ulang Keramba Jaring Apung\r\n(KJA) di kawasan waduk Sungai Citarum, menghantarkan berbagai ...
Smart dinilai mampu menurunkan bahan organik limbah budidaya\r\ndi perairan terbuka
Adanya polemik penataan ulang Keramba Jaring Apung\r\n(KJA) di kawasan waduk Sungai Citarum, menghantarkan berbagai solusi untuk\r\ndiaplikasikan. Walaupun sebetulnya penataan ulang ini disebut Kementerian\r\nKelautan dan Perikanan (KKP) untuk mewujudkan program Citarum Harum terkait\r\nkegiatan sektor perikanan.
Solusi tersebut antara lain melalui penelitian yang\r\ndilakukan Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRSDI) Jatiluhur – Jawa\r\nBarat. Unit kerja di bawa naungan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan\r\ndan Perikanan (BRSDM) KKP ini merilis tiga solusi hasil riset dan inovasi dalam\r\nmewujudkan program Citarum Harum yang berkaitan dengan kegiatan perikanan.
Aulia Riza Farhan Kepala BRPSDI mengungkapkan, tiga solusi\r\ntersebut adalah teknologi keramba jaring apung dengan sistem management dengan\r\nresirkulasi dan tanaman (KJA Smart), teknologi eelway, dan Culture Based\r\nFisheries (CBF). “KJA Smart merupakan solusi jangka pendek guna mendukung\r\nkegiatan budidaya perikanan yang merupakan teknologi untuk pencegahan dan\r\npengendalian eutrofikasi dengan mengadopsi sistem akuaponik yang telah\r\ndimodifikasi sehingga dapat diterapkan di perairan terbuka waduk/danau,” terang\r\nAulia.
Makanya, terang Aulia, berdasarkan dampak dari kegiatan\r\nbudidaya, dilakukan upaya pembuatan desain sistem budidaya yang ramah\r\nlingkungan oleh tim BRSDI. Salah satunya adalah dengan sistem KJA SMART.\r\nBerdasar isu yang berkembang, sisa kegiatan budidaya menjadi bahan organik yang\r\nmempercepat eutrofikasi. “Makanya ini bagaimana cara supaya tidak terjadi\r\neutrofikasi dari sisa kegiatan budidaya, kita desain KJA dengan model baru\r\nsehingga hampir 90 % sisa bahan organik ini tidak keluar dari badan air,”\r\ntambah Aulia.
Keunggulan KJA Smart, imbuhnya, yakni dimana sisa pakan\r\nterbuang dan sisa metabolisme ikan tertampung dan terendapkan di sistem\r\npenampungan sisa pakan dan tanaman akuaponik dapat berfungsi sebagai\r\nfitoremidiasi polutan (metode untuk mencuci limbah menggunakan tanaman). Selain\r\nitu keunggulan lainnya adalah dapat menampung masukan beban pencemaran organik\r\ndi perairan danau atau waduk, menghasilkan produk tanaman organik, serta dapat\r\nmenjadi destinasi ekowisata dan eduwisata.
Konstruksi KJA Smart
Penelitian KJA ini, dilakukan berdasar penelitian yang sudah\r\ndilakukan terkait pengaruh eutrofikasi atau penyuburan perairan oleh karena\r\naktivitas budidaya perikanan. Peneliti senior BRSDI Prof Krismono mengungkapkan\r\ndalam penelitiannya bahwa ketebalan endapan di Waduk Djuanda pada lokasi\r\nbudidaya 10 cm lebih tebal dibandingan lokasi tanpa kegiatan budidaya ikan dan\r\npeningkatan unsur hara perairan terutama nitrogen (N) dan fosfor (P) yang\r\ndiperkirakan berasal dari hasil dekomposisi sisa pakan ikan dari KJA yang\r\nterendapkan di dasar perairan.
Berdasar sumber jurnal “Penelitian Uji Serap Polutan Organik\r\noleh Bahan Aktif Tanaman Air, Pengendalian Eceng Gondok dan Uji Kelayakan KJA\r\nSmart” pada 2016 lalu, konstruksi KJA Smart terdiri dari tiga komponen utama. Yaitu;\r\nkolam kedap air, penampung sisa limbah pakan dan tanaman akuaponik berupa\r\nkangkung.
Menurut Krismono, hasil penelitian yang sudah dilakukan\r\nsebelumnya menunjukkan kangkung digunakan sebagai tanaman akuaponik karena\r\nfungsinya. “Kegiatan KJA Smart diharapkan untuk menurunkan konsentrasi bahan\r\norganik. Dan kangkung dapat menurunkan kadar N-NO2, P-PO4, dan N-NO3.
Dan hasil penelitian menunjukkan KJA Smart mampu menurunkan\r\nkandungan P-PO4, N-NO3 dan bahan organik pasca melewati tanaman akuaponik berturut-turut\r\nadalah 6,3-84,8%; 4,1 -77,7% dan 8,8-90,71%. Dimana dalam kegiatan budidaya\r\nikan terjadi pelepasan limbah karbon, nitrogen dan fosfor. Bahan anorganik\r\nterlarut dari nitrogen (seperti NH3 ) dan fosfor (seperti PO4 3-) dilepaskan\r\nmelalui ekskresi dan C anorganik dilepaskan melalui respirasi.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 94/15 Maret –\r\n14 April 2020
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Artikel Asli: Trobos Aqua

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
