Minapoli
Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat
Kakap Putih

Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

Kakap putih menjadi alternatif komoditas marikultur, di Bali\r\npermintaan ekspor sampai 7 ton per minggu.Polemik kebijakan dalam bisnis ikan kerapu bisa menjadi\r\nmomentum untuk memaksimalkan komodi...

Kakap putih menjadi alternatif komoditas marikultur, di Bali\r\npermintaan ekspor sampai 7 ton per minggu.

Polemik kebijakan dalam bisnis ikan kerapu bisa menjadi\r\nmomentum untuk memaksimalkan komoditas unggulan marikultur lainnya seperti\r\nkakap putih. Beberapa tahun lalu, pemerintah menggadang-gadang ikan kakap putih\r\nsebagai salmonnya Indonesia. Tetapi produksi nasional yang dicatat Kementerian\r\nKelautan dan Perikanan (KKP) baru mencapai 8 ribu ton (2017) ini sebetulnya\r\nmasih terlalu sedikit. Salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang\r\npembesaran kakap putih bahkan memiliki target produksi tahunan sebanyak 3 ribu\r\nton.

Menurunnya potensi ekspor ikan kerapu dijadikan pembudidaya\r\nmarikultur asal Bali, Usama Umar Al Hadasi sebagai momentum untuk banting setir\r\nke komoditas kakap putih. Menurut penuturannya, ia sudah mulai beralih ke kakap\r\nputih sejak dua tahun lalu. “Kami belajar ke kakap putih, dan kebetulan ada\r\nprocessing (pabrik pengolahan) yang menerima hasil produksinya. Jadi kita\r\nbelajar produksi kakap putih size (ukuran) 1,2 – 2 kg per ekor, sesuai\r\npermintaan processing,” kata Usama kepada TROBOS Aqua.


Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL Batam


Permintaan perusahaan fillet processing terhadap kakap putih\r\ndi Bali cenderung stabil. Mereka menjual hasil olahannya untuk tujuan ekspor.\r\nMenurut Usama, permintaannya sekitar 5 – 7 ton setiap minggu. Kebutuhan ini\r\ndipenuhi oleh beberapa pembudidaya yang ada di Bali, termasuk perusahaan yang\r\nsudah besar. “Kalau dilihat apabila processing permintaan ekspornya tinggi,\r\nharapannya cukup menjanjikan. Rata-rata dia (processing) bilang sih kemampuan\r\nsebulan sekitar 30 ton dibagi beberapa cluster yang ngisi,” tambahnya.

Hanya saja, lanjut Usama, harga yang didapat oleh\r\npembudidaya masih belum stabil. Penyebabnya karena kakap putih hasil budidaya\r\nmasih bersaing dengan kakap hasil tangkapan. Dan ikan tangkapan tersebut\r\ncenderung memiliki harga yang jauh lebih rendah. Kakap putih hasil budidaya\r\nbiasanya dihargai Rp 65 - 70 ribu per kg. Sementara kakap putih hasil tangkapan\r\nharganya bisa Rp 10 ribu lebih murah per kilogramnya. “Hasil tangkapan itu bisa\r\ndi bawah Rp 50 ribu malah,” tambah Usama. Tetapi memang pasokan ikan dari hasil\r\nbudidaya jauh lebih berkelanjutan.

Setelah kurang lebih dua tahun berjalan, Usama menilai\r\npenjualan kakap putih cenderung lebih mudah secara teknis dibanding kerapu.\r\nKakap putih tidak harus dijual dalam keadaan hidup, sehingga proses\r\npengirimannya menjadi lebih mudah. “Jadi tidak ada aturan-aturan yang mengikat\r\nyang mengakibatkan pembudidaya harus meningkatkan lagi persyaratannya,”\r\nujarnya. Bahkan Usama berpendapat seharusnya ke depan kakap putih bisa\r\nbenar-benar menjadi komoditas unggulan nasional.


Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)


Teknis Budidaya

Meski cukup prospektif, tetapi budidaya kakap putih masih\r\nmembutuhkan pengembangan. Menurut Usama, kakap putih memiliki keunggulan teknis\r\nhanya pada sifatnya yang euryhaline atau memiliki toleransi yang tinggi\r\nterhadap kadar garam (salinitas). Oleh karena itu ikan ini bisa dibudidayakan\r\nsecara optimal di tambak air payau dan masih toleran di KJA air laut. Tetapi\r\nUsama sendiri melakukan budidayanya di KJA bekas kerapu yang sudah tidak ia\r\npakai.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Meski cukup toleran pada salinitas, tetapi pada perubahan\r\nparameter lingkungan yang lain masih lemah jika dibandingkan ikan kerapu,\r\napalagi yang sudah hybrid. Menurutnya Usama kakap putih biasanya sudah membawa\r\nViral Nervous Necrosis (VNN). Sehingga apabila terjadi perubahan lingkungan\r\nyang menyebabkan ikan stress, infeksi VNN akan mudah menyerang hingga\r\nmenyebabkan kematian massal yang fatal. “Kakap putih memang harus jeli dan\r\nteliti dari nutrisinya, rekayasa lingkungan, kemudian dari broodstock-nya itu sendiri,”\r\nsimpul Usama.


Artikel Asli : Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan