Minapoli
Budidaya Ikan Berbasis Kawasan, Solusi Ciptakan Lapangan Kerja
Mas

Budidaya Ikan Berbasis Kawasan, Solusi Ciptakan Lapangan Kerja

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

Potensi ekonomi budidaya berbasis kawasan tambak ini sangat\r\nbesar. Bahkan, budidaya berbasis kawasan ini kalau dikembangkan dengan baik\r\ndapat dijadikan salah solusi untuk menciptakan lapangan pe...

Potensi ekonomi budidaya berbasis kawasan tambak ini sangat\r\nbesar. Bahkan, budidaya berbasis kawasan ini kalau dikembangkan dengan baik\r\ndapat dijadikan salah solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mengatasi\r\npengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,\r\napabila potensi budidaya tambak udang sekitar 3 juta hektar (ha) dimanfaatkan\r\n500 ribu ha saja dengan produksi kakap putih rata-rata 1,5 ton/ ha, maka akan\r\nada tambahan produksi sebanyak 750 ribu ton dari kakap putih.

Jika dikalkulasi, dengan harga kakap putih Rp 50\r\nribu/kg, maka nilai ekonominya sekitar Rp 37,5 triliun atau US$ \r\n2,68 milyar. “Bukankah potensi ekonomi yang luar biasa,” ujar Slamet, di\r\nMakassar, Jumat (12/7).

Lantaran potensi budidaya berbasis kawasan ini cukup besar,\r\nSlamet mendorong agar daerah-daerah lain dapat mengembangkan kawasan-kawasan\r\nbudidaya serupa dengan komoditas andalan masing-masing. "’Jadi tak hanya\r\nPinrang dan Maros, kabupaten lain seperti Pangkep dan Jeneponto juga akan kita\r\ndorong sebagai kawasan budidaya kakap putih,” kata Slamet.

Menurut Salmet, budidaya berbasis kawasan dengan komoditas\r\nandalan dan spesifik ini bisa menjadi trend di daerah potensial di seluruh\r\nIndonesia. Nantinya, akan ada kawasan budidaya windu, nila salin,\r\nbandeng, vaname dan lainnya.

“Komoditas yang potensial dikembangkan diantaranya nila\r\nsalin. Sebab, jenis komoditi ini memiliki keunggulan spesifik. Dari\r\nsisiknya saja mampu menghasilkan bakteri positif yang dapat berperan sebagai\r\nkompetitor bakteri negatif yang dapat mematikan udang,” kata Slamet.

Slamet juga mengatakan, agar budidaya berbasis kawasan di\r\nSulsel ini berjalan baik dan berkelanjutan, Ditjen Perikanan Budidaya sudah\r\nmenunjuk Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar dan Balai\r\nPerikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon sebagai penanggung jawab program.

“Tahun ini ada 5 unit hatchery tambahan dengan teknologi\r\nbudidaya sistem resirkulasi (RAS) untuk kegiatan pendederan benih ikan konsumsi\r\ntermasuk kakap putih. Dengan teknologi RAS, kapasitas produksi benih meningkat\r\nmencapai 3 juta ekor per tahun. Fasilitas dan kemampuan ini siap untuk\r\nmendukung pengembangan kawasan budidaya di berbagai daerah,” kata Slamet.

Abdul Warih, salah pembudidaya kakap putih dan udang windu\r\ndi Pinrang menyatakan, berbudidaya kakap putih di tambak sangat\r\nmenguntungkan. Sebab, kakap putih bisa dibudidaya bersama komoditas bandeng dan\r\nudang atau polikultur.

“Apabila sebelumnya kami hanya panen 300 kg udang windu dan\r\nbandeng 150 kg. Sekarang, tanpa sentuhan teknologi setidaknya kami mendapatkan\r\ntambahan minimal 300 kg kakap putih. Jadi, kalau kami jual dengan Rp 50\r\nribu/kg, ada tambahan pendapatan Rp 15 juta/ panen,” papar Warih.

Warih juga mengatakan, udang windu yang dibudidaya bersama\r\nkakap putih, pertumbuhannya bagus dan sehat. Bahkan, udangnya tumbuh\r\nlebih cepat dan ukuran panennya lebih besar.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

“Ini bisa jadi solusi agar tambak kami tak nganggur. Kami\r\njuga tetap punya pekerjaan dan berpenghasilan lumayan,” ujar Warih.


Sumber : Tabloid Sinar Tani

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan