Minapoli
Budidaya Gurami Optimal Bersama STP
Mas

Budidaya Gurami Optimal Bersama STP

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
5 menit baca

Dengan pakan\r\nSuri Tani Pemuka (STP) pembesaran ikan lebih cepat dan citarasa ikan lebih\r\ngurih Bagi warga\r\nyang ingin melakukan budidaya ikan di tengah pemukiman, ikan gurami (gurame)\r\nbisa j...

Dengan pakan\r\nSuri Tani Pemuka (STP) pembesaran ikan lebih cepat dan citarasa ikan lebih\r\ngurih

 

Bagi warga\r\nyang ingin melakukan budidaya ikan di tengah pemukiman, ikan gurami (gurame)\r\nbisa jadi pilihan. Pasalnya, budidaya gurami tidak menimbulkan bau dan hemat\r\nair. Selain itu, ancaman penyakitnya tidak banyak dan harga jualnya pun lebih\r\nstabil dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya. 

 

Hal itulah\r\nyang menjadi alasan Siswanto yang melakoni pembesaran ikan gurami (Osphronemus\r\ngouramy) Kota Metro, Provinsi Lampung, sejak tahun 1999 silam. Bahkan ia\r\ntermasuk perintis budidaya ikan air tawar secara intensif di kota\r\ntersebut. 

 

Ketika\r\nditemui di rumahnya yang dikelilingi kolam ikan di Kelurahan Purwosari,\r\nKecamatan Metro Utara, Kota Metro, baru-baru ini, pria setengah baya ini\r\nmengaku sengaja memilih budidaya ikan gurami karena selain harganya relatif\r\nstabil dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, juga tidak mengganggu warga\r\nsekitar. “Maklum rumah saya berada di lingkungan pemukiman padat penduduk, jika\r\nsaya memelihara ayam tentu mengganggu para tetangga akibat bau tidak sedap,”\r\nujar Siswanto beralasan. 

 

Kecuali itu,\r\nmeskipun budidaya gurami masa pembesarannya relatif lama, namun pakan bisa\r\ndikombinasikan dengan dedaunan yang banyak terdapat di sekitar rumahnya dan\r\npenyakitnya pun tidak begitu banyak. “Dari awal memang saya kesengsemnya dengan\r\ngurami dan tidak pernah beralih hingga kini,” lanjutnya. 

 

Pada awalnya\r\nSiswanto membudidayakan ikan gurami pada satu kolam. Setelah setahun\r\nmembesarkan ikan dipanen sebanyak 50 kg gurami ukuran 7 ons per ekor yang\r\ndijual ke rumah makan/restoran di Kota Metro. Pada awalnya untuk sampai panen,\r\ndibutuhkan waktu pemeliharaan hingga setahun dengan pakan pabrikan yang\r\ndikombinasikan dengan pakan alami berupa dedaunan seperti, daun talas, daun\r\nsingkong, daun jati, daun pepaya, kangkung, serta daun mengkudu. 

 

Pakan STP 

 

Untuk\r\nmempercepat pembesaran ikan, Siswanto terus mencari terobosan, termasuk\r\nmengganti benih dan pakan. Sejak menggunakan pakan merek NGA produksi PT Suri\r\nTani Pemuka (STP), pembesaran ikan lebih cepat sehingga untuk mencapai berat\r\nenam hingga tujuh ons hanya diperlukan waktu pemeliharaan 10 bulan. Selain itu\r\ncitarasa ikan juga lebih gurih sehingga disukai rumah makan/restoran. 

 

Kini\r\nSiswanto sudah memiliki 25 kolam dengan tingkat kepadatan tebar 10 ekor\r\nbibit/meter kubik dan FCR hampir mendekati satu. Jika pada awalnya Siswanto\r\nmembuat kolam tanah maka sekarang umumnya kolam yang dibangun berada di atas\r\npermukaan tanah dengan dilapisi plastik tebal dengan kedalaman 80 cm. 

 

Mas Sis\r\nbegitu warga dan kenalannya memanggil—pernah beralih menggunakan pakan merek\r\nlain dari pabrikan yang berbeda atas anjuran distributor pakan di Kota Metro.\r\nNamun akhirnya kembali ke produk STP karena selama ganti pakan tersebut,\r\npertumbuhan ikannya menjadi lebih lambat. “Ya kayaknya memang dengan kondisi di\r\nsini cocoknya pakan STP,” lanjutnya. Meskipun harga pakan STP terus bergerak\r\nnaik, namun Mas Sis tak bergeming lagi untuk beralih ke merek lain. 

 

Soal benih,\r\nmenurut Ketua Kelompok Tani Manjur ini tidak mengalami kesulitan karena usaha\r\npembenihan gurami sudah berkembang di Metro, Kabupaten Lampung Tengah, dan\r\nLampung Timur. Hal ini seiring terus bertambah banyaknya pembudidaya ikan\r\ngurami di daerah ini. 

 

Siswanto\r\nmenambahkan, ia ‘setia’ dengan pakan STP karena selain lebih fresh karena\r\npabriknya berlokasi di Lampung, juga kualitas pakannya stabil sehingga\r\npertumbuhan gurami tetap baik dan lebih tahan terhadap serangan penyakit dari\r\nsatu siklus ke siklus berikutnya. “Soal harga nomor dua, saya lebih\r\nmementingkan kestabilan kualitas pakan agar pertumbuhan ikan tetap terjaga pada\r\nsetiap siklus,” ungkap Sis. 

 

Di tempat\r\nterpisah Gunawan, Fish Technical Service PT STP mengapresiasi kepercayaan\r\nSiswanto yang setia menggunakan pakan produksi STP dari awal menjalankan\r\nbudidaya hingga kini. Sebagai rewardnya, pihak STP memberikan berbagai\r\nfasilitas untuk kelancaran budidaya yang dijalankan Siswanto. “Sejak tiga tahun\r\nlalu, Pak Sis menjadi mitra pendampingan STP,” jelas Gunawan. 

 

Secara\r\nberkala tim laboratorium keliling dan technical service PT STP melakukan cek\r\nkualitas air di kolam budidaya gurami milik Siswanto. Terakhir tanggal 4\r\nFebruari lalu, tim TS STP melakukan uji sampel air kolam budidaya milik Siswanto.\r\nDari hasil uji lab parameter air, TS STP merekomendasikan agar Siswanto\r\nmelakukan aplikasi dolomit pada kolam dengan dosis 3 gram/m3/minggu guna\r\nmenjaga kestabilan mineral air. 

 

Ditambahkan\r\nGunawan, aplikasi dolomit juga dimaksudkan untuk menaikan kadar alkali air\r\nkolam yang rendah. Sebab jika dibiarkan menyebabkan plankton tidak stabil,\r\nbahkan bisa drop. “Kondisi ini menjadikan bahan organik bisa memicu pertumbuhan\r\npenyakit/bakterial,” terangnya

Potensi\r\nPasar 

 

Setelah\r\ndibesarkan selama 11 bulan, rata-rata ukuran ikan berkisar antara 4-5-6\r\nekor/kg. Ikan tersebut dibeli tukang bakul seharga Rp 29 ribu hingga Rp 30\r\nribu/kg. Dibandingkan dengan ikan tawar lainnya, harga jual ikan gurami lebih\r\nstabil. Hanya pada musim kemarau harga ikan gurami lebih mahal. Kepadatan tebar\r\n500 -600 ekor/kolam dan bisa panen rata-rata 400 ekor.

 

Sis mengaku\r\ntidak banyak pembudidaya gurami di Metro Utara. Pasalnya untuk membesarkan\r\ngurami butuh modal yang lebih besar untuk pengadaan pakan. Banyak juga yang\r\ncoba-coba, tapi karena kebanyakan hanya mengandalkan bantuan pemerintah tidak\r\nlanggeng. 

Mengenai\r\nproduksi per bulan, menurut Sis, tidak pasti karena panen dilakukan dengan\r\nmempertimbangkan harga jual, kebutuhan dana dan umur ikan. Hanya Sis mengaku,\r\nhasil dari penjualan ikan jauh lebih besar dibandingkan dengan padi\r\nsawah. 

 

Jika umur\r\nikan kurang dari 10 atau 11 bulan, biasanya tidak tahan jika dibawa perjalanan\r\njauh. Sementara pemasaran gurami, selain ke Metro, Bandarlampung juga sebagian\r\nke Sumatera Selatan. Jadi perlu ikan yang lebih kuat agar tetap dalam kondisi\r\nhidup sampai di tujuan. 

 

Setelah\r\nsukses melakoni budidaya gurami, Sis berencana melakukan diversifikasi dengan\r\nmenjual gurami beku (frozen). Ia melihat selama ini, kendala penjualan gurami\r\nadalah dalam keadaan hidup dan konsumen kesulitan membersihkannya.“Jadi jika\r\nkita jual gurami yang sudah dibersihkan dan dalam keadaan beku, saya yakin\r\nkonsumen lebih tertarik. Karena jika dijual di dalam frezer maka, kapan pun\r\nkonsumen bisa membelinya,” ungkap Sis

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

 

Artikel Asli : Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan