Minapoli
BSF untuk Budidaya, Maggot Hingga Kepompong
Mas

BSF untuk Budidaya, Maggot Hingga Kepompong

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Tidak hanya pada fase maggotnya, pemanfaatan BSF untuk bahan\r\nbaku pakan ikan juga bisa pada fase kepompongnya.Pengembangan maggot dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF)\r\nuntuk alternatif bahan ...

Tidak hanya pada fase maggotnya, pemanfaatan BSF untuk bahan\r\nbaku pakan ikan juga bisa pada fase kepompongnya.

Pengembangan maggot dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF)\r\nuntuk alternatif bahan baku pakan sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Tetapi\r\npenelitiannya untuk mendapatkan hasil yang optimal pada budidaya ikan masih\r\nterus berjalan. Penggunaan maggot sebagai alternatif bahan baku pakan banyak\r\ndilakukan oleh para pelaku budidaya yang cenderung menggunakan pakan mandiri.\r\nSalah satunya seperti yang dilakukan oleh penggiat maggot asal Garut – Jawa\r\nBarat, Yosep Purnama.

Yosep sudah melakukan percobaan penggunaan maggot sebagai\r\nbahan baku pakan selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2016 ia bersama\r\nkelompoknya yang tergabung dalam Leles Lestari Foundation sudah memproduksi\r\nmaggot untuk dijadikan bahan baku pakan ikan. Ia juga mempunyai kolam budidaya\r\nuntuk mencoba langsung pakan mandirinya itu.


Baca juga: KKP Apresiasi Pembuatan Pakan Ikan Mandiri Berbahan Baku Maggot


Ia memproduksi pakan berbahan baku maggot yang bervariasi,\r\nmulai dari benih hingga pembesaran, khususnya ikan nila. Untuk pakan benih, ia\r\nlangsung menggunakan tepung maggot tanpa dicampur dengan bahan lainnya.\r\nMenurutnya, kandungan protein yang terdapat pada tepung tersebut berkisar 40 –\r\n44 %. Dengan menggunakan tepung maggot, Yosep mengklaim ada percepatan waktu\r\nbudidaya hingga dua minggu dibandingkan jika menggunakan pakan biasa.

Sementara untuk pakan pembesaran nila, ia bersama\r\nkelompoknya memproduksi pakan berukuran 2 – 6 mililiter (ml). Disesuaikan\r\ndengan bobot ikan dan masa budidayanya. Menurutnya, pakan nila yang ia buat\r\nmemiliki kandungan protein sebesar 32 % dengan komposisi maggot pada pakan\r\ntersebut sebanyak 30 – 35 %. “Kami ikut SNI (Standar Nasional Indonesia) saja\r\nuntuk persentase proteinnya,” ujarnya.


Baca juga: Black Soldier Fly Larval Production in a Stacked Production System


Menurut perhitungan Yosep, dengan menggunakan pakan maggot,\r\nlaju pertumbuhan ikan nila bisa mencapai 1,88 - 2,36 %. Sementara kelangsungan\r\nhidupnya bisa mencapai 92 – 95 %. Menurutnya, tidak terlihat dampak negatif\r\npenggunaan maggot pada kesehatan ikan. “Kami kirim sample ikan kan ke UPT Benih\r\ndan data penggunaan pakannya. Jadi berdasar hasil lab mereka, pakannya aman.\r\nIkannya juga sehat,” tambah Yosep.

Ia juga mengklaim bahwa FCR (rasio konversi pakan) pakan\r\nberbahan baku maggot yang diberikan pada nila bisa mencapai 0,8. Hal ini\r\nmenguntungkan bagi Yosep dan kelompoknya karena bisa menekan biaya pakan, yang\r\nmerupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya.

Selain keuntungan selama masa budidaya, penggunaan pakan\r\nberbahan baku maggot juga memberikan keuntungan pasca panen. Yosep mengaku bisa\r\nmenjual ikannya jauh lebih tinggi dibanding para pembudidaya lainnya yang ada\r\ndi sekitaran Garut yang tidak menggunakan pakan maggot. “Di petani sekitaran\r\nGarut, harga nila di pembudidaya itu rata-rata Rp 15 – 16 ribu (per kg).\r\nSekarang di saya harganya bisa Rp 24 ribu. Karena bandar tau saya menggunakan\r\npakan green (ramah lingkungan),” ungkapnya.


Baca juga: Maggot, Pakan Alternatif Berprotein Tinggi untuk Ikan


Penggunaan maggot sebagai bahan baku pakan juga diapresiasi\r\noleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menteri\r\nKP, Edhy Prabowo, dalam suatu kunjungannya ke Leles Lestari Foundation beberapa\r\nwaktu lalu mengungkapkan bahwa penggunaan maggot sebagai bahan baku penting\r\ndilakukan oleh para pembudidaya. “Artinya mengurangi ketergantungan dari pakan\r\npabrikan yang harganya semakin hari semakin mahal,” ucap Edhy.

Pentingnya pengembangan alternatif bahan baku pakan ini juga\r\npernah disampaikan Edhy kepada delegasi FAO (Organisasi Pangan Dunia) yang\r\nberkunjung ke kantornya awal tahun lalu. Edhy menyatakan bahwa pengembangan\r\npakan berbahan baku maggot perlu mendapat dukungan karena selain bisa menekan\r\nbiaya pakan, proses produksi maggotnya juga sangat ramah lingkungan. Yakni\r\ndengan memanfaatkan sampah-sampah organik sebagai sumber makanannya. “Maggot\r\nini memakan sayuran, limbah rumah tangga, limbah restoran, dia bisa mengurai\r\nsampah organik,” katanya.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 94/15 Maret –\r\n14 April 2020


Artikel Asli: Trobos Aqua

Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan