Minapoli
BPBAT Jambi Siap Pasok Benih Patin 2,2 Juta Ekor/Tahun
Patin

BPBAT Jambi Siap Pasok Benih Patin 2,2 Juta Ekor/Tahun

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen\r\nPerikanan Budidaya pada tahun 2019 komitmen meningkatkan produksi patin melalui\r\npengembangan budidaya ke masyarakat.  Guna mempermudah kel...

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen\r\nPerikanan Budidaya pada tahun 2019 komitmen meningkatkan produksi patin melalui\r\npengembangan budidaya ke masyarakat.  Guna mempermudah kelompok\r\npembudidaya (pokdakan) mendapat benih patin berkualitas, Ditjen Perikanan\r\nBudidaya juga mendorong  Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi\r\nmemproduksi calon induk maupun benih patin sebanyak 2,2 juta ekor/tahun.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan,\r\nbenih patin dan benih ikan air tawar lainnya seperti nila dan mas yang\r\ndiproduksi BPBAT Jambi sudah siap didistribusikan ke masyarakat. “Benih dan\r\ncalon induk ikan air tawar seperti patin, mas dan nila itu akan didistribusikan\r\nke seluruh kawasan Sumatera, seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat,\r\nRiau, Aceh, dan Jambi,” papar Slamet, saat kunjungan kerja bersama Komis IV DPR\r\nRI, di BPBAT Jambi, Senin (15/7).

Menurut Slamet, selain patin, BPBAT Jambi juga bisa\r\nmemproduksi benih dan calon induk nila sebanyak 2 juta ekor/tahun. Balai air\r\ntawar tersebut juga mampu memproduksi benih dan calon induk ikan mas sebanyak\r\n1,2 juta ekor/tahun.

UPT yang berada di bawah Ditjen Perikanan Budidaya ini juga\r\ndikenal sebagai tempat produksi calon induk dan benih ikan seperti nila, baik nila\r\nmerah maupun JICA atau nila Jepang, dan  gurame. Bahkan, BPBAT Jambi mampu\r\nmemproduksi calon induk dan benih ikan spesifik lokal seperti jelawat, nilem,\r\nsemah dan ikan hias seperti botia, arwana Jambi dan super red, maupun ikan\r\nSumatera.

Slamet juga mengungkapkan, untuk mendukung pengembangan UPT\r\ntersebut, Ditjen Perikanan Budidaya saat ini  sedang mempersiapkan\r\npembangunan instalasi milik BPBAT Jambi di  Kabupaten Dharmasraya Sumatera\r\nBarat (Sumbar) seluas 30 hektar (ha) dan di Kabupaten Musirawas Sumatera\r\nSelatan seluas 40,9 hektar (ha). Pembangunan instalasi ini diharapkan bisa\r\nmendorong BPBAT Jambi dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya.

“Kalau produksi benih maupun calon induk meningkat,\r\nmasyarakat akan semakin mudah melakukan budidaya dan pada akhirnya produksi\r\nperikanan budidaya ke depan meningkat,” kata Slamet.

Menurut Slamet, mendekatkan sentra pembenihan ke sentra\r\npembesaran memiliki arti yang sangat strategis,  karena akan mampu\r\nmempercepat distribusi benih ikan dan menurunkan biaya angkut atau\r\npengirimannya. Melalui pendekatan tersebut, biaya produksi pembudidaya bisa\r\nditekan dan pendapatan masyarakat pun meningkat.

Slamet juga berpesan kepada penerima bantuan agar\r\nbantuan-bantuan dapat dimanfaatkan dengan maksimal.  Sehingga, hasilnya benar-benar\r\ndapat dirasakan  dan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Kalau bantuan yang kami berikan dimanfaatkan dengan benar\r\ndan sesuai aturan, kami yakin bantuan ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan\r\nmasyarakat secara signifikan. Sebagai contoh, bantuan pakan mandiri jika\r\ndimanfaatkan dengan benar, maka akan menurunkan biaya produksi hingga 30-40%.\r\nHal ini akan menjadi faktor pengungkit meningkatnya pendapatan pembudidaya,”\r\ntegas Slamet.

Pabrik Pakan Mandiri

Selain memproduksi benih dan calon induk ikan air tawar,\r\nBPBAT Jambi juga memiliki  pabrik pakan mandiri dengan kapasitas  1\r\nton/jam. Sehingga, target produksi pabrik pakan mandiri dari BPBAT Jambi \r\npada tahun 2019 ini sebanyak 140 ton.

“Sebagian produksi pakan mandiri tersebut akan diperuntukkan\r\nkepada masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan seperti pakan mandiri, benih\r\nikan, budidaya ikan minapadi dan bioflok maupun bantuan lainnya dampaknya telah\r\nnyata dapat dirasakan,” kata Slamet.

Berkat bantuan pakan mandiri dan benih ikan,  pendapatan\r\nrata-rata pembudidaya mengalami kenaikan dari Rp 3,03 juta/bulan pada tahun\r\n2017 menjadi Rp 3,39 juta/bulan  pada tahun 2018,  atau naik\r\n8,9%.  “Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan pembudidaya ikan jauh lebih\r\nbesar dibandingkan dengan UMR nasional sebesar Rp 2,26 juta,” ujar Slamet.

Slamet juga menjelaskan,  Nilai Tukar Pembudidaya Ikan\r\n(NTPi) sebagai indikator daya saing pembudidaya ikan juga terus naik menjadi\r\n102 pada Juni 2019 lalu. Angka di atas 100 ini menunjukkan pendapatan\r\npembudidaya ikan lebih besar dari pengeluarannya.

Data BPS juga menyebutkan, nilai tukar usaha pembudidaya\r\nikan (NTUPi) pada Juni 2019  lalu, jauh di atas angka 100 yaitu mencapai\r\n114.60. Artinya, prospek usaha perikanan budidaya semakin membaik dan\r\nefisien. 

Menurut Slamet, produksi perikanan budidaya pada triwulan I\r\ntahun 2019 naik 3,03% atau sebesar 4,65 juta ton,  dibandingkan dengan\r\nperiode yang sama tahun 2018 sebesar 4,56 juta ton. Sementara itu, dalam\r\nperiode yang sama produksi perikanan tangkap hanya mencapai 1,9 juta ton.\r\nArtinya produksi perikanan budidaya sudah mendahului di atas produksi perikanan\r\ntangkap.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

“Meski begitu, pembangunan perikanan budidaya akan terus\r\nditingkatkan seiring dengan naiknya target produksi sebagai konsekuensi atas\r\nsemakin meningkatnya kebutuhan pangan berbasis protein hewani terutama ikan,”\r\npungkas Slamet.


Sumber : Tabloid Sinar Tani

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan