Minapoli
Borong Kalukua Jadi Salah Satu Percontohan Budidaya Kakap Putih
Mas

Borong Kalukua Jadi Salah Satu Percontohan Budidaya Kakap Putih

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

MAROS — Dusun Borong Kalukua Desa Borimasunggu\r\nKecamatan Maros Baru dijadikan salah satu percontohan pengembangan kawasan\r\nbudidaya kakap putih di tambak.Sebanyak 150 ribu benih ikan kakap p...

MAROS — Dusun Borong Kalukua Desa Borimasunggu\r\nKecamatan Maros Baru dijadikan salah satu percontohan pengembangan kawasan\r\nbudidaya kakap putih di tambak.

Sebanyak 150 ribu benih ikan kakap putih yang disalurkan\r\nDirektorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan,\r\nKamis, 11 Juli 2019 di Dusun Borong Kalukua Desa Borimasunggu kepada kelompok\r\npembudidaya ikan dengan target sasaran untuk kawasan kakap putih sekitar 300\r\nhektare. Penyerahan bibit ini dihadiri langsung oleh Dirjen Perikanan\r\nBudidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, Kepala Balai\r\nPerikanan Budidaya Air Payau Takalar, Nono Hartanto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan\r\nSulsel, Sulkaf S Latief, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maros,\r\nSam Sophyan, dan Kepala Balai Perikanan Ambon.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan, Slamet Soebjakto, mengatakan, pihaknya melakukan penebaran benih\r\nkakap putih dan juga memberikan bantuan ke Maros berupa benih kakap putih, nila\r\nsalin, bandeng, dan udang windu. “Diharapkan benih-benih ini bisa meningkatkan pendapatan\r\nmasyarakat dan meningkatkan produksi perikanan budidaya,” katanya. Diakuinya,\r\nsebelum di Maros, pihaknya juga telah membuka budidaya ikan kakap di Pinrang.

Slamet mengatakan, alasan diberikannya bantuan kakap putih\r\ndan nila salin karena pihaknya ingin membentuk kawasan perikanan budidaya yang\r\nberbasis komoditas. Sebab, Maros sudah ditetapkan sebagai kota minapolitan dan\r\nini juga basisnya pada komunitas.

Lebih lanjut, kata dia, pihaknya sengaja memilih kakap putih\r\nkarena bisa untuk memutus rantai penyakit udang yang selama ini menjadi momok\r\npembudidaya.

“Jadi kakap putih ini bisa memutus rantai penyakit udang\r\nyang selama ini menjadi momok pembudidaya. Nah itu akan kita hilangkan dengan\r\nkakap putih maupun dengan nila salin. Sebab kakap putih ini ikan yang rakus,\r\nkarena memakan apa saja yang ada ditambak. Seperti keong dan cacing yang merupakan\r\npotensi karier penyakit virus yang membahayakan udang. Sehingga diharapkan\r\ntidak ada lagi karier yang menyebabkan potensi penyakit ke udang,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, kakap putih bisa menjadi komoditas\r\nandalan. “Karena kakap putih ini punya tekstur daging putih dan sangat diminati\r\noleh dunia dan juga lokal Indonesia. Sehingga marketnya pun berpotensi\r\ndiekspor,” sebutnya. Menurutnya budidaya ikan kakap putih ini juga merupakan\r\nsalah satu cara untuk membangkitkan recovery tambak yang mangkrak.

“Kita memberikan solusi supaya tambak ini termanfaatkan\r\nkembali karena selama ini produksi udang menurun disebabkan penyakit. Sehingga\r\nsolusinya ya dengan budidaya kakap putih dan nila salin agar tetap ada terus\r\nkegiatan,” jelasnya.

Jumlah benih yang disalurkan, kata dia, sekitar 800 hingga\r\n900 ribu ekor yang terdiri atas ikan nila salin 62 ribu ekor, 500 ribu udang\r\nwindu, 200 ribu benih ikan bandeng dan 150 ribu ekor kakap putih. Selain itu,\r\njuga dilakukan penyaluran bantuan benih nila salin di Desa Majannang Kecamatan\r\nMaros Baru.


Sumber : FAJAR.CO.ID

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan