Minapoli
Bertemu Dubes Selandia Baru, Menteri Edhy Ajak Investasi Sistem Rantai Dingin Perikanan
Mas

Bertemu Dubes Selandia Baru, Menteri Edhy Ajak Investasi Sistem Rantai Dingin Perikanan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo terus menjalin\r\nkomunikasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pembangunan industri\r\nkelautan dan perikanan Indonesia. Pada Kamis (14/11), Menteri ...


Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo terus menjalin\r\nkomunikasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pembangunan industri\r\nkelautan dan perikanan Indonesia. Pada Kamis (14/11), Menteri Edhy menerima\r\nkunjungan dari Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia H.E. Jonathan Austin di\r\nKantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta.

Dalam kesempatan ini, Menteri Edhy menyampaikan, Indonesia\r\ndan Selandia Baru bukan hanya sahabat namun juga negara bertetangga yang\r\nmemiliki ikatan yang sangat kuat. “Kita ini bukan hanya sahabat, tapi tetangga.\r\nAnda bisa cari sahabat di mana saja, tapi tidak dengan tetangga. Jadi, kita ini\r\nada karena sudah diatur Tuhan. Pilihannya tinggal kita mau melakukan hal yang\r\nbaik atau yang buruk. Saya akan memilih hal yang baik,” tuturnya.

Untuk itu, Menteri Edhy menyatakan bahwa Indonesia akan\r\nterus meningkatkan hubungan kerja sama dengan Selandia Baru di sektor kelautan\r\ndan perikanan. “Apa pun yang bisa kami tingkatkan, akan kami lakukan,” ucapnya.

Menteri Edhy mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia tengah\r\nfokus membangun sektor akuakultur dan industri pengolahan ikan. Sejalan dengan\r\nitu, ia mengharapkan dukungan Selandia Baru untuk berinvestasi membangun sistem\r\nrantai dingin (cold chain system) perikanan di Indonesia.

Selain itu, Selandia Baru diharapkan dapat membantu\r\nIndonesia dalam upaya diplomasi global terhadap kerang hijau Indonesia yang\r\nsaat ini masih dihadapi dengan embargo dari pasar Amerika Serikat dan Uni\r\nEropa. Tentunya, hal ini akan disertai dengan perbaikan terhadap pencemaran\r\nmerkuri pada kerang hijau Indonesia, sebagaimana telah dilakukan oleh\r\nnegara-negara Asia lainnya.

Selanjutnya, Menteri Edhy menyampaikan terima kasih atas\r\ndukungan Selandia Baru terhadap subsidi bagi nelayan perikanan skala kecil (small-scale\r\nfishing) yang dilakukan oleh Indonesia. “Atas dukungan Anda, Indonesia akhirnya\r\ndiberikan pengecualian khusus untuk melakukan subsidi bagi nelayan perikanan\r\nskala kecil,” tuturnya.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia H.E. Jonathan\r\nAustin menyampaikan bahwa ia mendukung Indonesia yang berupaya membantu nelayan\r\nperikanan skala kecil dengan subsidi. Meskipun begitu, ia menyatakan\r\nkekhawatirannya terhadap subsidi yang kerap diberikan oleh sejumlah negara\r\nuntuk kapal-kapal perikanan besar di laut lepas. Ia menilai, hal ini menciptakan\r\npersaingan yang tidak sehat dan merugikan bagi negara lainnya. Untuk itu, ia\r\nmengajak Indonesia bekerja sama mengampanyekan pengurangan subsidi terhadap\r\nkapal-kapal besar di laut lepas.

“Kami tahu bahwa penting bagi Indonesia untuk memberikan\r\nsubsidi kepada nelayan perikanan skala kecil (small scale fishing). Kami tidak\r\nmengkhawatirkan hal ini. Namun, kami berharap Indonesia dapat bergabung dengan\r\nkami dan negara-negara lainnya untuk mengkampanyekan pengurangan subsidi bagi\r\nkapal-kapal besar di laut lepas,” terangnya.

Menteri Edhy menegaskan bahwa Indonesia tidak melakukan\r\nsubsidi yang mengarah pada persaingan yang tak sehat. Ia pun menyatakan akan\r\nbersama-sama melawan hal tersebut.

Selanjutnya, Jonathan menyampaikan bahwa Selandia Baru\r\nmenerima banyak Awak Buah Kapal (ABK) dari Indonesia untuk mengoperasikan\r\nkapal-kapal perikanan. Ia memastikan, seluruh ABK Indonesia terjamin\r\nkeselamatan dan kesejahteraannya. Jonathan menyebut, seluruh kapal yang\r\nberlayar di perairan Selandia Baru saat ini harus berbendera Selandia Baru. Hal\r\nini membuat seluruh kapal perikanan harus tunduk pada hukum ketenagakerjaan\r\nSelandia Baru dan memenuhi standar upah yang sesuai.

“Upah minimumnya sekitar NZ$14/jam. Kami juga punya\r\ninspektur perikanan di atas kapal. Jadi, dapat saya pastikan bahwa ABK\r\nIndonesia diperlakukan dengan baik,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Jonathan menawarkan kolaborasi dalam\r\npelatihan di bidang perikanan melalui beberapa beasiswa yang tersedia untuk\r\nIndonesia.

Menteri Edhy menyampaikan, sumber daya manusia memang\r\nmenjadi fokus Presiden Joko Widodo pada periode pemerintahan 2019-2024. Ia pun\r\nmenyampaikan apresiasinya kepada Selandia Baru yang telah menerima tenaga kerja\r\ndari Indonesia dan berharap untuk terus meningkatkannya ke depan.

“Mudah-mudahan dengan kerja sama yang baik, kami juga bisa\r\nmelatih tenaga kerja kami. Tidak hanya bekerja di sana tapi mendapat nilai\r\ntambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang lebih dibandingkan sebelumnya,”\r\npungkasnya.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Sumber : KKP News

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan