Selain udang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan\r\nmengembangkan dan mendorong budidaya (pembesaran, red) sidat di masyarakat. Hal\r\nitu dikarenakan, ekspor sidat yang dilakukan pada awal...
Selain udang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan\r\nmengembangkan dan mendorong budidaya (pembesaran, red) sidat di masyarakat. Hal\r\nitu dikarenakan, ekspor sidat yang dilakukan pada awal tahun 2020 ke Jepang\r\nnilainya cukup signifikan, yakni Rp 6,1 miliar. Bahkan, negeri\r\nSakura sangat meminati komoditas sidat dari Indonesia, sebagai bahan\r\nutama olahan unagi.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan,\r\nkarena kinerja ekspornya signifikan, pihaknya bertekad mengembangkan sidat\r\nsebagai salah satu komoditas ekspor. “ PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk telah\r\nmengembangkan budidaya sidat di desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, Kab.\r\nBanyuwangi. Budidaya sidat tersebut juga melibatkan masyarakat melalui\r\nkemitraan,” papar Slamet Soebjakto, di Banyuwangi, Rabu (15/1).
Slamet mengatakan, Ditjen Perikanan Budidaya akan\r\nmemfasilitasi pengembangan budidaya sidat di kawasan potensial. Lantaran, benih\r\nsidat masih mengandalkan dari alam, masyarakat diimbau melakukan pengelolaan\r\nsecara terukur dan bertanggungjawab. Artinya, pengelolaannya sesuai ketentuan\r\ndan menjamin habitat sidat terjaga dengan baik.
Dalam hal pengelolaan sidat, KKP sudah punya payung hukum\r\njelas, sehingga pemanfaatannya bisa terukur. Satu sisi stok lestari, disisi\r\nlain budidaya juga terus berkembang. Apalagi permintaan sidat, khususnya ke\r\nJepang tinggi.
Menurut Slamet, segmen usaha pembesaran sidat telah\r\nmengangkat ekonomi masyarakat. Karena itu, KKP melalui Ditjen Perikanan\r\nBudidaya sedang merancang agar produktivitas akuakultur ini bisa digenjot,\r\nmeningkatkan efisiensi dan nilai tambah melalui pengelolaan yang terintegrasi\r\ndan ramah lingkungan.
“ Tentu kami akan gandeng private sektor dan\r\nmemfasilitasinya guna memastikan iklim usaha dan investasi bisa kondusif. Satu\r\nsatunya jalan agar sub sektor akuakultur memberikan kontribusi besar bagi\r\npertumbuhan ekonomi, kita harus genjot ekspor melalui industrialisasi,” papar\r\nSlamet.
\r\n
\r\nSlamet mengungkapkan, semakin meningkatnya ekspor produk akuakultur\r\nmenunjukkan bahwa kualitas produk, manajemen ketelusuran dan jaminan keamanan\r\npangan semakin baik. “Karena itu, kami mengapresiasi keberhasilan ekspor\r\nakuakultur seperti sidat dan pakan ikan. Ekspor pakan ini luar biasa, karena\r\nselama ini kita impor bahan baku utama seperti tepung ikan dan kedelai, “\r\nkata Slamet
Seperti diketahui, KKP pada awal tahun 2020 telah\r\nmemulai ekspor produk akuakultur yang nilainya cukup\r\nsignifikan. Ekspor perdana produk akuakultur yang\r\ndilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk nilainya sebesar Rp 13,3 miliar. Dari\r\ntotal nilai ekspor tersebut, untuk produk fillet ikan nila sebesar\r\nRp 3,4 miliar dengan tujuan ekspor USA. Kemudian, olahan ikan nila sebesar\r\nRp 3,5 miliar, dengan tujuan ekspor\r\nFilipina. Olahan ikan sidat yang besarnya Rp 6,1 miliar\r\ndengan tujuan Jepang. Sedangkan untuk pakan ikan nilainya sebesar Rp 300 juta ,\r\nnegara tujuannya Timor Leste.
Data KKP menyebutkan, pada tahun 2019 ekspor PT\r\nJapfa Comfeed Indonesia, Tbk yang didominasi oleh produk akuakultur nilainya\r\nlebih dari Rp 438 miliar. Nilai ekspor tersebut tercatat naik\r\nsignifikan sebesar 54 persen dari tahun 2018 yang besarnya Rp 284\r\nmiliar.
Sumber: Tabloid Sinar Tani

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
