Minapoli
Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang Vaname
Udang

Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang Vaname

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
10 menit baca

Bahan aditif (additive) merupakan salah satu bahan\r\nterpenting untuk mendukung kesuksesan pembudidayaan udang vaname. Bahan aditif\r\nadalah bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan tertentu. Dal...


Bahan aditif (additive) merupakan salah satu bahan\r\nterpenting untuk mendukung kesuksesan pembudidayaan udang vaname. Bahan aditif\r\nadalah bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan tertentu. Dalam\r\npembudidayaan udang vaname, bahan aditif biasa digunakan pada proses persiapan air\r\nmedia budidaya sebelum penebaran benur udang, pengelolaan air media budidaya,\r\nserta pengelolaan pakan udang vaname. Pemberian bahan aditif ini ditujukan\r\nuntuk mempercepat pertumbuhan udang dan memperbaiki kondisi kualitas air yang\r\ndigunakan sebagai media budidaya udang.

Persiapan Air Media\r\nBudidaya

Persiapan air media dilakukan selama 1 – 2 minggu yang\r\ndimulai dengan pengisian air ke dalam kolam. Persiapan air media budidaya\r\nbertujuan agar pada saat benur ditebar, benur dapat hidup dan tumbuh dengan\r\nbaik. Hal yang pertama harus dipersiapkan tentunya adalah kolam budidaya. Kolam\r\nbudidaya biasanya dibuat dengan kedalaman lebih dari 150 cm dan terdapat\r\nsaluran masuk air (inlet).

Tahap awal dalam kegiatan persiapan air media budidaya\r\nadalah sterilisasi media budidaya. Air yang digunakan untuk budidaya udang\r\nvaname merupakan air laut yang disterilisasi. Air harus steril serta terdapat\r\nplankton sebagai sumber pakan alami bagi udang sebelum dilakukan penebaran\r\nbenur. Air yang masuk ke dalam kolam harus di saring menggunakan saringan yang\r\ndipasang pada inlet hingga ketinggian permukaan 120 – 150 cm\r\nbergantung pada sistem budidaya udang yang dilakukan. Dalam proses sterilisasi,\r\ndigunakan kaporit 60% dengan dosis 20 – 30 mg/liter. Dosis ini dapat\r\ndisesuaikan dengan kondisi air laut yang tersedia. Bahkan, pada kondisi yang\r\nsangat baik, sterilisasi air dapat dilakukan hanya dengan mengunakan dosis 5\r\nmg/liter.

Penggunaan dosis ini dapat dilakukan apabila budidaya udang\r\ndilakukan pada perairan yang sangat bersih (perairan berkarang), jauh dari\r\npencemaran limbah industri serta sumber pencemar dari limbah rumah tangga\r\n(sungai), sehingga kemungkinan keberadaan inang pembawa penyakit serta partikel\r\ntersuspensi pada air sangat kecil.

Persiapan Pakan Udang\r\nVaname

Pembentukan pakan alami dilakukan setelah air media selesai\r\ndisterilisasi. Menumbuhkan pakan alami pada air media mutlak harus dilakukan,\r\nselain sebagai sumber pakan, juga digunakan sebagai green shalter untuk\r\nmengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam kolam, sehingga fluktuasi suhu\r\nyang terlalu tinggi dapat dihindari.

Tinginya fluktuasi suhu akan mengakibatkan udang yang baru\r\nditebar mengalami stres bahkan bisa mengakibatkan kematian. Pembentukan pakan\r\nalami dilakukan dengan penebaran bahan aditif. Bahan aditif dapat diaplikasikan\r\npada siang hari pukul 09.00 – 11.00 saat cuaca cerah. Pengaplikasian bahan\r\naditif dilakukan dengan melarutkan bahan aditif dengan air dan ditebar merata\r\ndi seluruh area kolam. Bahan aditif yang digunakan berupa Fitoplankton stabiler, Suplemen\r\nMineral, Water Colour, dan Probiotik. Fitoplankton stabiler merupakan bahan aditif yang\r\nmengandung nutrisi, berfungsi untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan menstabilkan\r\nfitoplankton yang menguntungkan di dalam kolam, mengendalikan warna air,\r\nmembantu menstabilkan temperatur dan pH dalam ekosistem tambak. Dalam persiapan\r\nmedia, fitoplankton stabiler diaplikasikan sebanyak 3 kali penebaran dengan\r\ndosis 1 mg/liter.

Fitoplankton stabiler difungsikan untuk\r\nmenstabilkan kondisi plankton dalam air serta mampu mendukung pertumbuhan\r\nplankton dengan baik. Ketersediaan plankton dalam air ini dapat digunakan\r\nsebagai pakan alami maupun sebagai green shealter bagi udang yang\r\ndibudidayakan. Aplikasi probiotik sangat baik untuk dilakukan karena probiotik\r\nini akan menguraikan bahan organik penyebab tingginya gas beracun dalam air\r\nyang berbahaya bagi udang.

Nitrifikator merupakan pemicu Nitrifikasi di dalam\r\nkolam udang. Kegunaan Nitrifikator adalah untuk menyediakan ruangan dan\r\nlingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri Nitrifikasi terutama Nitrosomonas\r\nsp dan Nitrobacter spp, meningkatkan efisiensi penggunaan limbah\r\nnitrogen seperti Amonia dan Nitrit di dalam kolam, meningkatkan produktifitas\r\ndengan menambah daya dukung kolam, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan\r\nkesetimbangan dalam ekosistem kolam. Komposisi Nitrifikator yang digunakan\r\ndapat dilihat pada Tabel.

Tabel. Komposisi Nitrifikator

\r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n
\r\n

Bahan Aktif

\r\n
\r\n

Konsentrasi

\r\n
\r\n

Magnesium Klorida (MgCl2 : 46%)

\r\n
\r\n

60 %

\r\n
\r\n

Kalsium Klorida (CaCl2 : 74%)

\r\n
\r\n

8 %

\r\n
\r\n

Sodium Bicarbonat (NaHCO3 :99,9%)

\r\n
\r\n

10 %

\r\n
\r\n

Mangan Klorida (MnCl2 : 98%)

\r\n
\r\n

5 %

\r\n
\r\n

Zink Sulfat (ZnSO4 : 35%)

\r\n
\r\n

1,2 %

\r\n
\r\n

Kalsium Silikat (Ca2SiO4 : 99%)

\r\n
\r\n

Sampai 100 %

\r\n


Suplemen Mineral berfungsi untuk meningkatkan\r\nalkalinitas, meningkatkan ketersediaan mineral–mineral penting dalam kolam,\r\nmeningkatkan kesetimbangan asam-basa dan osmoregulasi bagi udang, serta\r\nmendukung aktivitas enzim dan hormon pada udang. Dalam persiapan media suplemen\r\nmineral diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan dosis 1 – 2 mg/liter.

Penggunaan suplemen mineral akan menyediakan mineral –\r\nmineral yang dibutuhkan oleh udang pada saat molthing yaitu untuk memperkeras\r\ncarapas, selain itu suplemen mineral ini berfungsi untuk menstabilkan bahkan\r\nmeningkatkan alkalinitas sehingga mampu menyangka perubahan kualitas air pada\r\nmedia budidaya khususnya pH air. Penggunaan nitrifikator bertujuan untuk\r\nmendorong terjadinya proses nitrifikasi oleh bakteri pengurai sehingga limbah\r\norganik hasil metabolisme udang maupun sumber limbah lainnya dapat diuraikan\r\nmenjadi senyawa yang tidak beracun. Pengaplikasian suplemen mineral dilakukan\r\nsejak udang umur DOC 5 hari, probiotik sejak udang umur DOC 7 hari,\r\nnitrifikator sejak udang umur DOC 10 hari sedangkan fitoplankton stabiler\r\nditebar sesuai dengan kondisi air dalam kolam.

Probiotik merupakan bahan aditif yang berfungsi untuk\r\nmeningkatkan kondisi lingkungan. Probiotik ini mengandung minimal 5 x 109 CFU/g\r\nbakteri aerobik dan bakteri anaerobik fakultatif. Probiotik diaplikasikan hanya\r\n1 kali dalam persiapan air dengan dosis 0.1 mg/liter.

Water Colour merupakan bahan yang digunakan untuk\r\nmemberikan warna pada air. Pemberian warna pada air ini dilakukan untuk\r\nmengurangi intensitas cahaya yang masuk pada kolam dan sebagai upaya\r\nperlindungan benur pada saat baru ditebar. Water colour ini dapat\r\ndijadikan sebagai alternatif pelindung benur apabila fitoplankton tidak tumbuh\r\natau kepadatan plankton rendah. Dalam persiapan media, water colour diaplikasikan\r\nsebanyak 2 kali dengan dosis 0.02 mg/liter.

Air media siap untuk dilakukakan penebaran benur apabila\r\ntelah ditumbuhi dengan fitoplankton. Secara visual air media akan tampak\r\nberwarna kehijauan (green algae) dengan kecerahan 30 – 40 cm. Namun\r\napabila sampai pada 1 – 2 minggu telah dilakukan persiapan air dan kecerahan\r\ntidak mencapai 30 – 40 cm, maka dilakukan penebaran water colour susulan\r\n1 hari sebelum penebaran benur.

Penebaran benur yang tinggi pada pembesaran udang Vaname\r\nsistem intensif sangat memungkinkan menurunnya kualitas air dengan cepat karena\r\nlimbah budidaya yang dihasilkan sangat banyak, sehingga perlu dilakukan\r\naplikasi bahan aditif selama proses budidaya. Aplikasi bahan aditif diharapkan\r\nakan mampu memperbaiki kondisi air sesuai dengan yang diharapkan udang. Bahan\r\naditif yang diaplikasikan untuk memperbaiki kualitas air akan bereaksi baik\r\nsecara langsung maupun secara tidak langsung.

Penggunaan Molase

Perbaikan kualitas air dengan pengaplikasian bahan aditif\r\njuga dilakukan dengan pengaplikasian Molase. Molase merupakan salah satu sumber\r\nC-organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan C/N ratio sebagai sumber\r\nenergi bagi bakteri menguntungkan (probiotik) di dalam air kolam. Molase\r\nini tidak langsung berpengaruh pada air, namun dimanfaatkan oleh bakteri\r\npengurai sebagai suber nutrien dan energi untuk melakukan proses dekomposisi.

Aplikasi molase ini dilakukan dengan tetesan, hal ini\r\ndilakukan karena dengan tetesan maka bakteri yang mengkonsumsi molase akan\r\nberkembang biak secara perlahan – lahan sehingga penurunan oksigen terlarut\r\ntidak terjadi secara drastis, karena pengaplikasian molase ini akan\r\nmengekibatkan bakteri pengurai berkembang dengan pesat, bakteri ini akan\r\nmendekomposisi bahan organik sehingga membutuhkan oksigen dalam jumlah tinggi.

Jumlah molase yang ditebar setiap hari berubah sesuai dengan\r\njumlah pakan perhari yang diberikan pada udang. Penghitungan jumlah molase\r\ndilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. \r\nMenentukan kandungan protein pakan misalnya 38 %\r\nsehingga N pakan yaitu 6,08 (38% x 16, yang mana 16 adalah ketetapan.

2. \r\nMenentukan kandungan C-organik dalam pakan\r\nmisalnya 50%, sehingga perbandingan C/N (50/6,08) yaitu 8,22/1.

3. \r\nMenentukan C/N ratio yang dikendaki, misalnya\r\n10/1, maka seharusnya C-organik 10 x 6,08 yaitu 60,8%, untuk itu C-organik\r\nharus ditambahkan.

4. \r\nJumlah C-organik yang harus ditambahkan yaitu\r\nC-organik yang dikehendaki – C-organik dalam pakan (60,8% – 50%) yaitu 10,8%.

5. \r\nJika kandungan C-organik molase adalah 45% maka\r\njumlah molase untuk menciptakan C/N ratio 10/1 yaitu 0,24 (10,8%/45%) dari\r\njumlah pakan per hari.

6. \r\nJadi, jika pakan per hari yang diberikan 150 kg\r\nmaka jumlah molase yang diaplikasikan yaitu 36 kg (150 x 0,24).

Pengaplikasian molase ini juga akan mengakibatkan menurunnya\r\npH air, sehingga perlu dilakukan pengapuran untuk meningkatkan pH air.\r\nPengapuran dilakukan apabila pH air media rendah (asam) yaitu < 7,0.\r\nPengapuran dilakukan dengan menggunakan Dolomite dengan dosis 5 – 15\r\nmg/liter. Dolomite digunakan karena kapur jenis ini dapat langsung\r\nbereaksi dalam air serta tidak meninggalkan limbah. Pengapuran dilakukan pada\r\npagi hari atau malam hari. Kapur dilarutkan kedalam air menggunakan ember,\r\nsetelah itu kapur ditebar merata diseluruh areal kolam. Komposisi kimia kapur\r\nyang digunakan yaitu MgO ≥ 20%, CaO ± 30%, serta lolos Mesh 100 sebanyak 95%.\r\nCara pengaplikasian bahan aditif dalam pengelolaan kualitas air dilakukan\r\ndengan tahapan sebagai berikut:

1. \r\nMenyiapkan ember dan timbangan duduk

2. \r\nMenimbang bahan aditif sesuai dengan dosis.

3. \r\nMemasukkan bahan aditif pada ember yang telah\r\ndisiapkan

4. \r\nMelarutkan bahan aditif dengan air kolam sampai\r\nhomogeny

5. \r\nMenebar larutan bahan aditif secara merata\r\ndiseluruh areal kolam, penebaran molase dimasukkan ke dalam drigen yang telah\r\ndisiapkan di kolam. Molase diteteskan dengan kran yang terdapat pada drigen.

Pengelolaan Pakan\r\nUdang Vaname

Pengelolaan pakan dalam budidaya udang vaname harus\r\ndilakukan dengan baik karena pakan merupakan unsur terpenting yang menunjang\r\npertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Secara biologi, pakan yang dikonsumsi\r\nudang langsung diproses dalam tubuhnya. Unsur – unsur nutrisi atau gizinya akan\r\ndiserap dan dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan daging, sehingga\r\npertumbuhannya lebih cepat.

Kecepatan laju pertumbuhan udang sangat dipengaruhi oleh\r\nkualitas dan kuantitas pakan yang diberikan serta kondisi lingkungan hidupnya.\r\nApabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi\r\nlingkungan yang mendukung, maka dapat dipastikan laju pertumbuhan udang akan\r\nlebih cepat sesuai yang diharapkan.

Pakan yang akan diberikan kepada udang dapat dicampur dengan\r\nbahan aditif berupa vitamin C dan dicampur dengan perekat komersial atau putih\r\ntelur. Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah rusak bila\r\nterkena panas dan mudah larut dalam air. Selain meningkatkan ketahanan tubuh\r\nterhadap penyakit, mencegah kelainan bentuk tubuh, mencegah stress lingkungan,\r\nmempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan laju pertumbuhan pada udang.\r\nTakaran vitamin C adalah 1 gram untuk 1 kg pakan dan perekat 4 gram setiap 1 kg\r\npakan. Kedua bahan tersebut dilarutkan dalam air 100 ml kemudian dicampur\r\ndengan pakan dan diaduk hingga merata.

Aplikasi feed additive berupa vitamin C atau\r\nvitamin lainnya dimulai sejak bulan pertama dan diberikan secara periodik,\r\nhingga menjelang pemanenan hasil. Dosis yang dapat digunakan berkisar antara\r\n3-4 gram per kg pakan dan diberikan setiap 3-4 hari sekali, serta frekuensi\r\npemberian 1-2 kali per hari. Jenis feed additive yang lain (multi\r\nvitamin) yang berupa cairan atau emulsi dapat diaplikasikan langsung\r\ndicampurkan dengan pakan buatan dengan dosis sesuai aturan

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Artikel Asli: Info Akuakultur


Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan